Selasa, 08 September 2009

Rooney Lebih Efektif Jadi Ujung Tombak

Pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson, mengakui bahwa striker Wayne Rooney bermain lebih efektif ketika dipasang sebagai ujung tombak. Ia meminta agar Rooney lebih fokus menyerang dari tengah.

Musim lalu Rooney jarang main di tengah karena sering diplot menjadi pemain sayap kiri. Di timnas Inggris, peran itu kembali diterapkan pelatih Fabio Capello kepada mantan pemain Everton tersebut.

Musim ini Rooney menjadi tulang punggung MU untuk menjebol gawang lawan setelah Cristiano Ronaldo dijual ke Real Madrid. Rooney setidaknya sudah memenuhi hal itu dengan mencetak empat gol pada empat laga awal. Dua gol di antaranya dicetak ke gawang Wigan Athletic hingga MU menang 5-0.

Ferguson mengatakan, Rooney bisa mencetak gol lebih banyak lagi jika ia memang berkonsentrasi pada penyerangan dan menjebol gawang lawan. Saat ini Rooney masih sering bermain melebar, mencari bola hingga tengah dan kadang sampai belakang.

"Dia menjadi lebih ngotot dan terarah. Dia punya banyak energi yang kadang ia gunakan berlebihan ketika dia ingin menggunakan semuanya. Dia akan berlari ke tengah atau ke sayap kiri," kata Ferguson kepada majalah Inside United.

Ferguson memaklumi itu karena usia Rooney masih muda, masih 22 tahun, masih ingin menunjukkan kekuatan fisik yang sebenarnya. Namun, ada baiknya Rooney mulai bermain efektif dengan konsentrasi menjadi ujung tombak.

"Jika dia berkonsentrasi seperti yang dia lakukan lawan Wigan dan meluangkan lebih banyak waktu di area tengah dibanding posisi sayap, dia akan mendapat banyak gol. Itu pasti," saran Fergie.

Mengenai gol yang bakal dicetak Rooney, pemain senior Gary Neville bahkan sangat yakin bahwa Rooney bakal mengalahkan rekor 249 gol yang pernah dicetak Sir Bobby Charlton selama membela "Setan Merah". Kali ini Ferguson meragukan hal tersebut. Rooney harus bekerja ekstrakeras agar bisa mendekati catatan itu.

Solskjaer : MU Besar karena Matt Busby

Mantan pemain Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, mengungkapkan bahwa MU bisa seperti sekarang karena peran besar dari Sir Matt Busby. Pelatih legendaris MU itulah yang mengawali upaya MU membina para pemain muda.

Di mata Solskjaer, Busby bukan sekadar pelatih yang sukses membawa MU ke kejuaraan Eropa apda 1968. Keyakinan Busby terhadap talenta pemain-pemain muda membuat tradisi mencetak pemain akademi di MU berjalan terus hingga kepelatihan Sir Alex Ferguson.

"Sir Matt selalu percaya pada pemberian kesempatan kepada pemain muda. Itu peran besarnya dan salah satu yang diteruskan oleh Sir Alex," kata Solksjaer, yang kini dipercaya melatih tim bayangan "Setan Merah".

Solskjaer mengakui, ketika pertama kali datang ke Old Trafford pada 1996, ia belajar banyak tentang sejarah klub tersebut. Ia mempelajarinya dari mendiang Busby, yang meninggal dunia dua tahun sebelumnya. Solskjaer pun pun tak segan bertanya kepada putra Busby, Sandy, untuk menyelami seperti apa sebenarnya kiprah "Setan Merah" sebelum ia datang.

"Manchester United berutang banyak kepadanya. Sir Matt-lah yang memberikan arah dan visi untuk membawa klub ke Eropa ketika tak seorang pun melakukannya," tambah pencetak gol kemenangan MU di final Liga Champions 1999 itu.

Kini tugas membina pemain muda MU ada di pundak Solskjaer. Di tangannya, bakal lahir pemuda-pemuda berprestasi dari akademi "Setan Merah". "Aku merasa tersanjung menjadi bagian dari itu. Pemain muda di Manchester United tahu jika mereka cukup bagus mereka akan mendapat peluang," ujarnya.

Liga Inggris kini menjadi sorotan menyusul sanksi yang bakal dihadapi Chelsea atas kasus perekrutan pemain muda Gael Kakuta. MU juga bakal menghadapi ancaman serupa setelah Le Havre menuntut mereka atas rekrutmen Paul Pogba.

Fergie Dukung Hukuman untuk Eduardo

Pelatih Manchester United (MU), Sir Alex Ferguson mendukung keputusan UEFA yang menghukum penyerang Arsenal, Eduardo da Silva, tak boleh main di dua pertandingan Liga Champions. Menurutnya, hukuman tegas untuk tindakan diving itu sangat penting untuk menjaga sportivitas pertandingan.

"Itu terjadi di pertandingan besar dan keputusan tegas harus diberikan untuk setiap pelanggaran. Dalam pertandingan besar, media akan merespon tindakan itu dengan besar pula," kata Ferguson.

Eduardo mendapat hukuman itu, karena melakukan diving saat Arsenal menjamu Glasgow Celtic di leg kedua kualifikasi Liga Champions. Karena diving itu, Celtic dihukum tendangan penalti dan Arsenal akhirnya menang 3-1.

"Saya kira tak ada pelatih yang bangga atas tindakan pemain seperti itu. Seorang pelatih juga tak akan bangga meraih kemenangan dengan cara kurang terpuji. Bahkan, tak seorang pun akan bangga. Sang pemain sendiri juga tak akan bangga atas tindakan diving, setelah kemudian duduk bersama saudaranya, ayah, dan ibunya," jelasnya.

Diving, kata Ferguson, juga menjadi pelajaran buruk buat anak muda. "Harus diingat, ada pula anak umur lima tahun yang menyaksikan pertandingan. Sangat memprihatinkan, anak-anak umur lima atau enam tahun ikut melakukan diving saat bermain. Kita semua bertanggung jawab kepada publik," tambahnya.

Ferguson mengatakan, sudah lama praktik diving dilakukan pemain. Ini sangat buruk dan harus diperangi. "Saya kira, kita juga harus mendidik pemain untuk menghindarinya," katanya.

Meski begitu, dia juga simpati kepada pelatih Arsenal, Arsene Wenger, yang membela pemainnya. Seorang manajer memang sebaiknya tak mengkritik pemainnya saat untuk konsumsi publik.

"Saya tak akan mengkritik pemain untuk konsumsi umum. Jika mengkritik pemain di depan publik, Anda telah menghancurkan moral pemain. Pekerjaan pelatih mempertahankan kekompakan pemain," terangnya.

Fletcher Tak Ingin Kehilangan Tempat

Gelandang Manchester United (MU), Darren Fletcher, berjanji akan meningkatkan kualitasnya. Hal ini ia lakukan karena tak mau kehilangan tempat di skuad reguler.

Ketakutan Fletcher sangat beralasan. Pasalnya, Sir Alex Ferguson mempunyai banyak stok pemain cadangan di lini tengah, di antaranya, selain Darren sendiri, ada Michael Carrick Anderson, Valencia, Nani, Paul Scholes, Park Ji-Sung, Owen Hargreaves, Gibson, Ryan Giggs, dan Obertan.

Sebagai pelatih, Fergie tinggal memilih seorang gelandang yang sesuai dengan keinginannya. Hal ini yang membuat Fletcher bertekad meningkatkan kualitasnya agar mampu bersaing di skuad inti.

"Aku selalu berpikir, ketika keluar dari lapangan, apakah aku tetap bertahan di tim pekan depan. Sikapku musim lalu begitu dan kupertahankan di musim ini," kata Fletcher kepada Manchester Evening News.

"Jika terlalu cepat puas, Anda akan langsung keluar," tambahnya.

Bagi Fletcher, setiap musim di jadikannya sebuah tantangan untuk tampil lebih baik. Di setiap laga, pemain bernomor punggung 24 ini selalu ingin tampil maksimal.

"Setiap musim adalah sebuah tantangan baru. Kami memiliki beberapa pemain bagus. Namun, aku memberikan penampilan 100 persen dan aku akan berkorban bagi tim besar ini. Aku merasa tertantang untuk terus memberikan kemenangan," paparnya.

"Aku adalah seorang yang berorientasi kepada keluarga. Ketika menyelesaikan latihan, aku lebih suka pulang ke rumah untuk menyiapkan pertandingan selanjutnya. Sepak bola adalah hidupku dan aku melakukan segalanya dengan lebih baik sebagai pemain dan seorang profesional," tambahnya.

MU Minta Suporter Berhenti Mencaci Wenger

Manchester United meminta para suporternya untuk berhenti mencemooh lawan, terutama cacian terhadap Pelatih Arsenal Arsene Wenger.

Wenger merupakan salah satu bahan cemoohan paling dicari oleh suporter ketika MU bermain sebagai tuan rumah. Pada laga kedua tim di Old Trafford, Sabtu (29/8), mereka kembali melakukan hal tersebut. Ketika Wenger diusir wasit dan kebingungan mencari tempat duduk di deretan penonton, fans "Setan Merah" termasuk anak-anak dengan leluasa meledek pelatih asal Perancis tersebut. Bahkan ada yang mengumpat, "duduklah kau paedofil".

MU merasa malu atas insiden itu. Mereka kini sedang merencanakan untuk bertemu dengan forum penggemarnya untuk membahas tentang hal ini.

"Kami mencatat, beberapa kali, adanya teriakan memuakkan ini," kata Direktur Komunikasi MU Philip Townsend.

"Kami tidak memaafkan hal ini dan telah memprotes beberapa kali pada masa lalu melalui kelompok suporter, program pertandingan, dan MUTV, tapi tidak banyak membantu. Ada cemoohan yang membuat suporter lawan merasa terhina dan ini jelas merupakan satu hal yang perlu dilakukan oleh suporter," tambahnya.

Wenger sendiri merasa gerah terhadap cemoohan tersebut. Tahun lalu, ia berkomentar atas ledekan seperti itu dengan mengatakan bahwa polisi sebaiknya ikut bertindak mengatasi hal tersebut di stadion.

Ferguson : Diego Calon Bintang Serie A

Gelandang Juventus, Diego Ribas, masih terus-menerus mendapat pujian. Kali ini Pelatih Manchester United Sir Alex Ferguson yakin bahwa pemain Brasil itu akan menjadi pemain bintang di Italia.

Menurut Ferguson, Diego akan membuat Juventus semakin kuat di Serie A. Komentar Fergie itu tak berlebihan. Pasalnya, gelandang berusia 24 tahun ini cepat beradaptasi di Italia.

Saat "Si Nyonya Tua" menang dari Chievo di giornata pertama, mantan pemain Werder Bremen memberikan assist kepada Vincenzo Iquinta hingga lahirlah gol tunggal Juve. Berikutnya, Diego tampil baik saat "I Bianconeri" bertandang ke markas AS Roma. Pada laga itu, Diego mencetak dua gol dan timnya menang 3-1.

"Saya suka melihat gaya permainannya," kata Ferguson kepada Tuttosport. "Dia selalu meningkatkan aksinya. Saat di Werder Bremen, dia pemain bagus dan saya pikir dia akan meningkatkan prestasi Juventus yang mempunyai skuad kuat untuk jadi juara."

Beberapa waktu lalu, legenda sepak bola Italia, Jose Altafini, memuji Diego layaknya Zico. Di mata Altifini, Diego memiliki kemampuan yang baik dalam menggiring bola dan mempunyai kecepatan di atas rata-rata.

Presiden UEFA Michel Platini pun mengungkapkan rasa penasarannya melihat duet Diego dan Alessandro Del Piero. Menurutnya, tak percuma Juve membeli gelandang tersebut seharga 24,5 juta poundsterling atau Rp 407 miliar karena Diego adalah calon bintang.

MU Juga Terancam " Sanksi Chelsea "

Kasus pencurian Gael Kakuta oleh Chelsea dari Lens membuat klub Liga Primer Inggris itu dijatuhi sanksi berat oleh FIFA.

Karena terbukti melakukan pelanggaran aturan transfer, Chelsea dijatuhi sanksi tidak boleh melakukan aktifitas pembelian pemain, atau mendaftarkan pemain baru di dua periode transfer hingga Januari 2011.

Dan rupanya, pelanggaran aturan transfer juga sempat dilakkan Manchester United. Adalah pihak Le Havre yang mengklaim demikian terkait transfer Paul Pogba ke MU.

Pihak Le Havre mengklaim MU telah menawarkan uang dalam jumlah besar kepada orang tua Pogba sebelum mantan kapten timnas U-16 Prancis itu hijrah ke Old Trafford.

Namun pihak MU membantah telah melakukan langkah yang tidak sesuai aturan untuk mendapatkan Pogba.

"Klaim ini benar-benar omong kosong. Semuanya dijalankan sesuai dengan aturan UEFA," jelas jurubicara MU.

Kabarnya UEFA maupun FIFA akan menyelidiki masalah ini.